naturindonesia.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Deteksi Dini Kanker ''Nasofaring''

E-mail

Di Indonesia, kanker nasofaring merupakan tumor ganas terbanyak di bidang THT dan merupakan urutan ke-5 terbanyak untuk tumor ganas di seluruh bagian tubuh dengan angka kematian yang tinggi. Etiologi dari kanker nasofaring ini belum diketahui dengan pasti, diduga berkaitan dengan virus Ebstein Barr.

DALAM kasus kanker nasofaring ini, angka kejadian tertinggi didapat pada etnis Mongoloid. Penyakit ini dapat mengenai semua golongan umur, terbanyak pada dekade 4 dan 5. Di daerah endemik, 60% penderita berumur kurang dari 50 tahun. Perbandingan laki-laki dan perempuan 2:1 sampai 4:1. Pada usia ini umumnya mereka masih produktif, sehingga perlu dilakukan usaha maksimal untuk menurunkan angka kematian yang tinggi ini yaitu dengan cara melakukan diagnosa kanker nasofaring sedini mungkin atau pada stadium awal. Diagnosis dini akan menentukan prognosis pasien atau angka bertahan hidup 5 tahun.

Diagnosa kanker nasofaring sering terlambat dilakukan. Hal ini disebabkan gejala dininya tidak khas dan letak nasofaring yang tersembunyi. Ia tersembunyi di belakang rongga hidung dan terletak di bawah dasar kepala serta berhubungan dengan banyak daerah penting di dalam otak dan leher. Penderita seringkali baru datang berobat setelah muncul gejala-gejala akibat penyebaran tumor seperti adanya benjolan di leher atau gangguan saraf. Mengingat letak nasofaring tidak mudah diperiksa, sebaiknya penderita berkonsultasi pada mereka yang ahli sehingga diagnosa dapat ditegakkan sedini mungkin.

Banyak faktor yang diduga berhubungan dengan timbulnya tumor ganas nasofaring, walaupun etiologi yang pasti belum diketahui. Ada dugaan faktor yang berperan di dalamnya adalah infeksi virus Epstein Bar, kerentanan genetik (ras Mongoloid) dan lingkungan termasuk kebiasaan hidup. Faktor lingkunan dan kebiasaan hidup seperti asap kayu yang digunakan untuk memasak, sering kontak dengan zat yang dapat menyebabkan kanker atau zat karsiogenik seperti bensophyrene, gas kimia, asap pabrik, asap obat nyamuk, asap rokok, nitrosamin yang terdapat pada ikan asin.

Gejala Bervariasi

Gejala dini kanker nasofaring sangat bervariasi dan tidak khas seperti gejala influensa biasa. Keluhan yang muncul tergantung dari posisi dan perluasan tumor nasofaring, apakah tumbuh ke arah muara tuba eustachius dari telinga atau ke hidung. Keluhan yang terjadi pada telinga maupun hidung bersifat unilateral atau satu sisi. Umumnya gangguan telinga muncul sebagai gejala dini karena tumor tumor bermula di sekitar muara tuba eustachius yang disebut fossa rossenmuller dimana pertumbuhan tumor akan menyumbat muara tuba. Gangguan pada telinga, dapat berupa rasa penuh di telinga, gangguan pendengaran, telinga mendenging dan rasa nyeri pada telinga.

Keluhan pada hidung berupa sumbatan menetap pada satu sisi atau kedua lubang hidung dan keluar darah berulang (mimisan) atau ingus bercampur darah yang disebabkan dinding permukaan tumor rapuh sehingga mudah berdarah pada iritasi ringan. Keluhan yang lain berupa tidak bisa mencium bau dan hidung berbau.

Gejala yang muncul pada telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala khas kanker nasofaring, karena juga dijumpai pada bentuk infeksi penyakit THT yang umumnya sudah banyak dikenal antara lain infeksi telinga tengah, pilek kronis, sinusitis dan lain-lain. Pasien sering menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tidak berbahaya akibat mereka tidak secepatnya mengunjungi dokter. Sebaliknya pasien sudah pergi ke dokter tetapi dokter mendiagnosa sebagai pilek-pilek kronis biasa. Tetapi jika sifatnya unilateral -- timbul berulangkali atau menetap tanpa penyebab yang jelas, kewaspadaan terhadap kemungkinan kanker nasofaring harus ditingkatkan apalagi disertai benjolan di leher bagian atas.

Di samping gejala pada telinga dan hidung, gejala sakit kepala juga ditemukan pada kasus dini. Dalam menegakkan diagnosa kanker nasofaring perlu dilakukan serangkaian pemeriksaan dan diagnosa pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi nasofaring.

Pemeriksaan

Pemeriksaan nasofaring berupa rinoskopi posterior dengan menggunakan cermin atau dengan endoskopi. Dalam banyak hal, endoskopi 90% lebih menguntungkan karena dapat melihat nasofaring pada stadium awal dengan menilai adanya bentukan peninggian asimetri yang ringan. Karena kegunaannya yang dapat memeriksa nasofaring secara lebih teliti dan lebih rinci, alat ini sangat berguna dalam deteksi dini pada lapisan mukosa di daerah endemik dan berfungsi dalam deteksi dini suatu kekambuhan.

Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan lokal anestesi maupun anestesi umum. Biopsi harus dilakukan secara ''avoe.'' Selanjutnya untuk memastikan kanker nasofaring dilakukan pemeriksaan patologi jaringan biopsi oleh seorang ahli patologi anatomi.

Kemudian, pemeriksaan serologis diperkenalkan saat ini sebagai salah satu cara untuk deteksi dini kanker nasofaring. Dengan masuknya virus ke dalam sel manusia, badan akan membentuk suatu reaksi imunologi atau kekebalan tubuh terhadap antigen-antigen yang ada di dalam virus. Penyelidikan reaksi imunologi terhadap antigen virus Epstein Barr ini telah berhasil mengindentifikasi beberapa antigen khusus yang dijumpai pada karsinoma nasofaring.

  1. Antibodi Ig G dan Ig A terhadap Viral Capsid Antigen (VCA). Sampai saat ini, pemeriksaan titer Ig A - VCA dianggap yang paling spesifik dan sensitif untuk diagnosa dini kanker nasofaring. Uji ini juga dianggap metode pilihan untuk keadaan occolt primary yaitu keadaan ditemukannya kelainan berupa pembesaran kelenjar servikal atau destruksi dasar tengkorak atau kelumpuhan saraf otak tanpa adanya tumor di nasofaring.
  2. Ig G anti Farly Antigen (FA). Untuk deteksi dini kanker nasofaring, uji ini kurang sensitif jika dibandingkan dengan Ig A - VCA.
  3. Antibody Dependent Cellular Cytotoxicty (ADCC). Pemeriksaan ADCC dapat menentukan perjalanan penyakit serta prognosis berdasarkan tinggi rendahnya titer pada waktu diagnosis.

Sebagai sarana diagnosis dini, uji Ig A-VCA merupakan uji yang paling sensitif untuk deteksi dini kanker nasofaring, namun dianjurkan untuk melakukan kombinasi dengan Ig G - EA supaya lebih spesifik dan sensitif. Untuk diagnosa pasti kanker nasofaring, memang tetap harus dilakukan biopsi serta pemeriksaan patologi-anatomi, sedangkan pemeriksaan serologi sebagai salah satu petunjuk deteksi dini kanker nasofaring. (dr. sulistiawan/ dr. ayu trisna)

Dari : balipost.co.id

- Natur Indonesia -

etiologi tumor nasofaring  patologi anatomi karsinoma transisional

 

 Menyembuhkan Kanker, Tumor, Kista dan Sel-sel Ganas Lainnya
keladi tikus
 

Keladi  Tikus : memperbaiki sistem pertahanan tubuh sehingga sistem  pertahanan mampu menghancurkan sel-sel kanker,  menghambat pertumbuhan sel  kanker termasuk melawan duplikasi sel  ganas, mereduksi  radikal bebas penyebab kanker, dan menghambat akibat buruk dari kemoterapi (rambut rontok, mual dsb).

Saran: Konsumsi – Minum Keladi Tikus Segar (Jus Keladi Tikus) telah terbukti  lebih efektif dibandingkan dengan semua produk hasil olahannya (extrak maupun plus).  Untuk itu usahakan Anda membuat Jus Keladi Tikus sendiri. Karena lebih manjur dan tidak perlu mengeluarkan biaya (sebenarnya mudah didapatkan di banyak tempat yang tumbuh liar). Minumlah kapsul keladi tikus hanya bila tidak sempat membuat jus-nya saja. Selain itu keladi tikus tidak bisa dibuat jamu godog karena efektifitasnya akan turun drastic (hilang). Anda juga bisa budidaya sendiri dengan mudah

 

 

 

Free Logo Maker and Logo Design By LogoSnap.com
Logo Maker
Loading
free counters
Free counters

Website saya nilaiRp 40.88 Juta