Ratusan anak-anak dan remaja di Indonesia menjadi penyandang diabetes mellitus (DM). Selain pola hidup yang tidak sehat, ada berbagai faktor penyebab yang ikut berperan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof dr Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan, diabetes pada anak sebenarnya sudah ada, namun tidak terdeteksi dengan baik. Alhasil, banyaknya DM pada anak remaja seperti fenomena gunung es.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, Angka Prevalensi DM pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia adalah 5,7 persen. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi anak di seluruh Indonesia, jumlah penyandang diabetes pada anak dan remaja di bawah 20 tahun adalah 731 anak/remaja.

Diabetes yang menyerang remaja umumnya DM tipe 1, yang terjadi karena kekurangan hormon insulin di dalam tubuh. Penyebabnya ada beberapa faktor, yakni faktor genetik (keturunan), auto-imun (kelainan sistem imunitas), pola hidup tidak bersih dan sehat seperti diet yang tidak sehat. Dan kelainan sistem imunitas terjadi karena peradangan pada sel beta (insulitis).

"Insulitis dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal di antaranya virus, seperti rubella dan herpes," kata Yoga dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Kamis (1/3).

Yoga juga menjelaskan, remaja menjadi kelompok usia yang konsumtif terhadap berbagai jajanan kuliner. Tak hanya ancaman DM, anak-anak ini juga bisa terancam penyakit lainnya akibat zat adiktif dan bahan makanan yang berbahaya.

"Bila tidak peduli, bisa menyebabkan terjadinya diabetes melitus sejak usia dini sehingga negara berkewajiban melindungi generasi muda dari bahaya ancaman makanan yang tidak sehat dan dapat menimbulkan penyakit," tegasnya.

 

Sumber: liputan6.com